Tuesday, December 25, 2007

ALON-ALON WATON KELAKON

(Terlintas nama Jogjakarta, Indonesia teringat akan asal usul keturunan sebelah bapa dari Kerajaan Mataram. Berikut tulisan seorang penulis Indonesia, Achmad Supardi mengenai Datuk Ahmad Zahid Hamidi ketika mula menjejaki kampung asal nenak moyang sebelah bapa. Rencananya disiarkan di Surabaya Post pada 9 Jun 2006).

Deputi Menteri Malaysia Keturunan Jawa ‘Orang Jawa Dikenal Rajin dan Taat Ibadah’ Selama sepekan ini, Deputi Menteri Pariwisata Malaysia, Dato’ Ahmad Zahid Hamidi sibuk mempromosikan Malaysia Great Sale ke sejumlah kota di Indonesia. Tapi siapa sangka bahwa ia ternyata keturunan Jawa, dan masih bisa berbicara dalam Bahasa Jawa pula? Bagaimana ia bisa sampai ke Malaysia dan menjadi pejabat tinggi di negeri itu? Berikut ceritanya dalam gaya bertutur. Oleh: Achmad Supardi – F.A. Aziz

Keluarga saya yang pertama datang ke Malaysia adalah kakek saya, almarhum Raden H. Abdul Fatah dan nenek saya, almarhumah Raden Hj. Mardiyah. Keduanya datang ke Malaysia tahun 1932 dari Wates, Jogjakarta. Saya tidak tahu persis mengapa mereka pindah, tapi itu mungkin bagian dari program transmigrasi yang digelar pemerintah penjajah waktu itu, atau mungkin juga menghindari sistem feudal dan tekanan hidup yang keras saat itu.

Di Malaysia, mereka kemudian bertempat di Kampung Sungai Nipah Darat, Distrik Bagan Datuk, Negara Bagian Perak. Di sana kakek saya termasuk yang pertama membabat alas dan membangun pemukiman. Beliau juga mendirikan Madrasah Mambaul Ulum. Meski bernama madrasah, ia kemudian menjelma menjadi pondok pesantren (Ponpes).

Setelah beliau wafat, kepemimpinan Ponpes ada di tangan almarhum Raden H. siradj, kakak tertua ayah saya dan kemudian digantikan ayah saya, Raden Hamidi ketika beliau berpulang juga. Ayah saya sendiri anak ke-7 dari 9 bersaudara.

Bagi sebagian orang yang paham budaya Jawa, mungkin keluarga kami adalah perkecualian karena jarang ningrat yang juga sekaligus santri. Ayah saya kemudian menikah dengan ibu saya, Tuminah, yang juga berasal dari Jawa, tepatnya dari Ponorogo.

Alhamdulillah, keduanya masih hidup, ayah saya 85 tahun dan ibu 80 tahun. Keduanya masih di Kampung Sungai Nipah Darat. Asal tahu saja, wilayah ini 100% penduduknya keturunan Jawa. Di sini, semua penduduknya berkomunikasi dalam Bahasa Jawa. Mereka hanya menggunakan Bahasa Melayu untuk berhubungan dengan orang luar, misalnya di kantor atau sekolah.

Para orang tua, katakanlah hingga generasi ayah saya, masih menggunakan Bahasa Jawa halus (krama). Kalau generasi saya hanya paham Bahasa Jawa pasar saja. Kami mengerti bahasa krama, namun tidak bisa mengungkapkannya. Bahasa Jawa juga dipakai dalam forum-forum pengajian, biasnaya bahasa krama.

Orangtua saya memang mengajarkan Bahasa Jawa pada kami, namun saya tidak secara khusus mengajarkannya pada anak-anak saya. Meski demikian, 2 dari 5 anak saya menunjukkan ketertarikan untuk mengerti Bahasa Jawa. Mereka paham Bahasa Jawa, namun tidak pandai dalam mengutarakannya.

Enak juga, lo, bisa berbahasa Jawa. Saya sering menggunakannya untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya rahasia. Kadang kawan-kawan saya bingung, mereka bertanya-tanya saya bicara bahasa apa, tapi biar saja….

Sekarang, alhamdulillah saya berkesempatan mengunjungi wilayah asal leluhur saya. Saya akan ke Jogjakarta tanggal 11 atau 12 Juni ini. Selain urusan promosi wisata Malaysia, saya juga akan mengunjungi Wates, tempat asal kakek saya.

Syukur, kami masih memiliki kontak dengan keluarga kami di Jogjakarta. Saudara sepupu ayah saya masih ada di situ. Ini memang kunjungan saya yang pertama ke Wates. Saya bawa serta istri, 2 putri dan 1 putra saya. Saya kira kunjungan nanti memang akan sangat emosional.

Kenduri dan Bedug Selain bahasa yang masih dipahami banyak kalangan keturunan Jawa di Malaysia, warisan budaya Jawa lainnya juga masih hidup di Malaysia. Di antaranya adalah makanan, adat perkawinan, juga kendurian.

Untuk makanan, misalnya, kami masih suka makan kacang tolo, sop kikil, sambel taun, juga gudeg. Tempe, lauk tradisional Jawa itu, seolah menjadi menu wajib bagi kami. Adat perkawinan juga masih dipertahankan. Hanya saja, hal-hal yang berbau kurafat atau warisan Hindu, kami buang. Sementara untuk kenduri, suasananya masih khas Jawa sejauh yang saya ketahui. Misalnya, ada bag-bagi berkat (bingkisan makanan) di akhir kenduri.

Selain itu, di masjid, musala, juga dalam acara perkawinan masih dipakai bedug. Ini benar-benar khas jawa karena musala atau masjid Melayu tidak mengenalnya. Di luar itu, orang keturunan Jawa juga dikenal karena banyak menjadi tukang khitan (calak).

Orang Melayu pun banyak berkhitan pada mereka. Selain di Kampung Sungai Nipah Darat, Perak, ada beberapa tempat yang juga merupakan komunitas Jawa, mislanya di Kampung Sungai Balai Darat (Perak), juga di kawasan Klang (Selangor) dan daerah-daerah di Johor. Malah dalam komunitas-komunitas Jawa di luar Perak, warna jawanya lebih kental. Termasuk, masih dipakainya nama-nama Jawa.

Jadi jangan kaget kalau menemukan nama-nama seperti Sukarno, Supardi, Tukiman dan sejenisnya. Kalau untuk generasi ketiga seperti saya, nama-nama yang dipakai sudah nama-nama Melayu (Islam).

Terkenal Rajin Meski banyak budaya Jawa yang masih dipertahankan oleh komunitas-komunitas Jawa di Malaysia, namun ada beberapa hal yang sempat mengejutkan saya. Misalnya, orang Jawa dikenal di Indonesia sebagai entitas dengan sifat atau kebiasaan kurang baik seperti lamban sampai ada ungkapan alon-alon waton kelakon (biar lambat asal selesai).

Di Malaysia, orang Jawa justru terkenal sebagai pekerja keras. Sifat pekerja keras ini bukan hanya untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI), namun juga bagi warga Malaysia keturunan Jawa.

Selain itu, orang Jawa juga dikenal kuat dalam ibadah, bahkan lebih taat dari orang Melayu sendiri. Sifat lainnya, orang Jawa di Malaysia dikenal patuh pada ketua dan tidak suka menikam dari belakang.

Jadi, sosok Jawa cukup disukai di Malaysia karena sifat-sifat positif itu. Saya terkejut juga, ternyata cap yang sama tidak melekat pada ornag Jawa di Indonesia. Mungkin keturunan Jawa di Malaysia menjadi pekerja keras karena merasa sebagai orang rantau, ya?

Orang-orang UMNO (Organisasi Nasional Melayu Bersatu, partai terbesar Malaysia) tahu bahwa saya orang Jawa. Malah, 10 dari 191 anggota parlemen berasal dari keturunan Jawa.

Menteri Besar (semacam gubernur negara bagian) Selangor, M. Kheir bin Toyo juga keturunan Jawa. Sebagai orang yang memiliki leluhur Jawa, kadang saya trenyuh juga mengetahui berita-berita penyiksaan terhadap TKI, misalnya.

Dua dari 4 pembantu rumah tangga saya juga orang Jawa, asal Solo dan Jember. Dalam hal-hal seperti itu, di forum-forum rapat, saya termasuk yang vokal meminta agar diberikan perlindungan yang baik.

Sebenarnya situasi di Malaysia sendiri baik, hanya saja kalau ada masalah, memang saya termasuk yang paling awal untuk meminta perhatian. Dalam kasus TKI terakhir, misalnya, saya bekerja sama dengan anggota parlemen dari DPR Indonesia, Ade Nasution.

Tentang hal-hal yang sifatnya konflik kedua negara, seperti Ambalat, saya termasuk yang tidak ingin itu membesar. Apalagi di Malaysia sendiri Ambalat memang bukan soal besar. Warga tidak memikirkannya secara serius. Itu hanya masalah dagang, masalah Petronas.

4 comments:

no2umno said...

Leklok....ini mungkin ada kaitannya dengan keturunan gue....Salam saudara dari Malaysia.

LEKLOOK said...

Salam jugak...Iya mungkin! Kalau ada susur galurnya yang udah disahkan daripada Sultan Hamangkubuwono memang seneng banget.

Anonymous said...

saya adalah cucu kepada raden solo yg nama sebenarnya datuk saya, tidak saya ketahui. akan tetapi di Malaysia namanya ditukarkan menjadi, Setu bin Kariosemento. Pd awalnya sy mmg tidak tahu menahu akan siapa sebenarnya datuk saya. akan tetapi, seorang saudara datuk sy telah membongkarkan identiti sebenar siapa datuk sy. itu pun sebelum beliau menghembusksn nafas terakhirnya dgn memberitahu bhw datuk sy sebenarnya raja pemerintah sah di solo. mereka berhijrah ke Malaysia krn sesuatu peristiwa. beliau sendiru adalah temenggung kpd arwah datuk sy. patutlah selama ini, datuk sy menggunakan bahasa jawa halus. br2 ini, sy didtgi dlm mimpi kehadiran org2 dr istana solo mencari penganti sah untuk bangkitkan semula kerajaan solo.mohornya adalah batu delima merah dr perhiasan mahkota kerajaan. sy hanya anggapnya sbg mimpi shj. segala kebenaran, hanya Allah yg lebih mengetahui.

jiwavisual said...

assalamualaikum.. Dato' baru ketemu blog ke riko kiye.. cerito ne kok menarik banget.. Yo kito podo ejek akeh sedolor nang jowo. Angger nang Malaysia seko Perak (sg Sumun) Bagan Datok Almarhum Raden marzuki bapake Almarhum raden Jawadi yo egek sedolor kambek embahe nyong Almarhum raden Bustam. Salam Ukhwah dari saya sahabat lama. TOJO